Tampilkan postingan dengan label Artikelpra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikelpra. Tampilkan semua postingan

Perjodohan Bisa Membahagiakan (Bagian 2 - Habis)

JIKA TANPA CINTA
Banyak motivasi yang menyebabkan seseorang akhirnya mengambil keputusan untuk menikah. Termasuk menerima pernikahan melalui perjodohan. Misalnya usianya sudah mendekati "deadline", ingin menyenangkan orangtua, terpaksa atau dipaksa oleh keadaan. Apa pun alasannya, menumbuhkan cinta dalam pernikahan sangatlah penting. Jangan sampai karena motivasinya hanya ingin menyenangkan orangtua, maka kehidupan pernikahan dijalani tanpa mempersoalkan ada/tidaknya cinta. Bagaimanapun rumah tangga tanpa cinta akan terasa kering. Meski cinta bukan faktor utama penentu kebahagiaan, tapi sedikit banyak cinta mempermudah keduanya menjalani kehidupan.

Masalah cinta ini memang krusial untuk pasangan yang menikah karena perjodohan. Sayangnya, banyak yang menafikan keberadaannya tanpa memikirkan dampaknya di kemudian hari. Akhirnya setelah pernikahan benar-benar di ujung tanduk, maka perjodohanlah yang disalahkan. Padahal kalau saja dari awal keduanya mau mengusahakan tumbuhnya getar-getar halus dalam hati, pasti semuanya akan terasa lebih ringan. Karena prinsipnya sebuah relasi akan dipertahankan kalau dirasa menyenangkan. Akan tetapi kalau tidak, salah satu atau keduanya pasti ingin "pergi". Tak ada yang perlu disesali, karena jodoh sudah ada yang menentukan, Anda hanya tinggal menjalaninya. Tentu saja sambil mengusahakan agar semuanya terasa membahagiakan.

AKHIRNYA TERGETAR
Toni (36), pengusaha
"Setelah putus dengan pacar pertama, entah kenapa saya sulit sekali jatuh cinta. Tak terasa umur terus bertambah. Setiap saat keluarga ribut menanyakan kapan saya menikah. Mereka menyodorkan banyak calon. Tapi tetap saja tidak ada yang sreg di hati. Pernah ada satu yang secara wajah sreg, tapi hati rasanya tidak tergerak juga. Sampai akhirnya ada sepupu dari kandidat yang dijodohkan membuat hati saya tergetar. Berhubung usia sudah tidak muda lagi, akhirnya orangtua saya langsung bertemu orangtuanya untuk membicarakan hari baik. Awalnya sempat ragu-ragu, tapi sudah setahun ini saya menjalani pernikahan dan semua baik-baik saja. Apalagi istri saya tidak banyak menuntut dan menghargai usaha saya untuk sedikit-sedikit belajar mencintainya."

TRADISI KELUARGA
Shinta (31), ibu rumah tangga
"Perjodohan adalah bagian dari tradisi keluarga besar kami. Makanya saya tidak mempermasalahkan ketika akhirnya saya menikah dengan seseorang yang dipilihkan keluarga. Toh, kakak, sepupu, om, tante dan banyak lagi orang-orang di lingkungan keluarga kami yang pernikahannya dijodohkan, hidupnya bahagia-bahagia saja. Saya sudah mengenal suami saya sejak kecil karena dia masih terhitung kerabat jauh. Saat orangtuanya melamar pun, saya tidak merasa marah, kecewa atau takut. Bukankah sedari kecil saya tahu hari seperti ini akan tiba juga. Setelah menikah, hidup kami bahagia-bahagia saja. Cinta? Kami tidak pernah membahasnya."

KALAU CARI SENDIRI BELUM TENTU SEPERTI ITU
Dewi (35), arsitek
"Buat saya pernikahan melalui perjodohan ini adalah sesuatu yang saya syukuri. Suami saya sangat baik, bertanggung jawab, mencintai keluarga, dan tidak aneh-aneh. Terus terang ketika ide perjodohan itu saya dengar pertama kali dari orangtua, saya langsung marah. Masak iya sih saya tidak laku sehingga sampai harus dijodohkan. Saya terus menolak dengan berbagai alasan ketika diminta ketemu dengan (calon) suami saya waktu itu. Sampai akhirnya saya didesak dan tidak bisa menghindar lagi. Waktu pertama kali ketemu, saya tidak menyangka kalau dia ternyata ganteng. Setelah kenal lebih dekat saya makin tahu kalau hatinya juga baik. Makanya saya tidak menyesal dijodohkan, karena kalau mencari sendiri belum tentu dapat yang seperti itu, he...he."

Oleh: Marfuah Panji Astuti/Tabloid Nakita
http://www.kompas.com


Perjodohan Bisa Membahagiakan (Bagian 1)

Kalau Anda adalah bagian dari mereka yang dijodohkan, Anda tidak sendiri. Bukankah calon raja Inggris, Pangeran William pun isunya sempat dijodohkan untuk mendapatkan permaisuri yang tepat? Yang diperlukan hanya sedikit perubahan pola pikir. Kalau yang lain jatuh cinta dulu baru menikah, sebaliknya Anda menikah dulu baru membangun cinta bersama. Itu belum tentu sulit, sebab yang dibutuhkan hanya satu kata: niat. Mencintai seseorang setelah pernikahan selama ada niat bukan sesuatu yang tidak mungkin. Dengan berbekal niat, melakukan hal-hal berikut akan memunculkan rasa cinta:

* Menjalin Komunikasi
Kendala utama dari pernikahan hasil perjodohan biasanya adalah komunikasi. Merasa belum begitu saling kenal tapi sudah harus sekamar, siapa yang tidak sungkan? Mulailah dengan membuka diri, mengajak bicara suami/istri mengenai apa saja. Apa yang disuka dan apa yang tidak, ataupun hal-hal ringan semisal acara teve hari ini. Ciptakan obrolan yang menyenangkan. Pasti ada satu atau dua hal yang sama-sama diminati. Manfaatkan kesamaan minat ini untuk membentuk kedekatan. Misalnya sama-sama suka membaca buku sastra, jadikan acara akhir pekan dengan berburu buku sastra.

* Membangun Kedekatan/Kebersamaan
Ciptakan selalu kedekatan dan kebersamaan. Berangkat dan pulang kantor bersama-sama, masak bareng, makan berdua, membereskan rumah bergotong royong dan sebagainya. Bagaimanapun kedekatan dan kebersamaan sudah terbukti mampu menggulirkan bola-bola cinta. Seperti kata pepatah Jawa, witing trisna jalaran saka kulino (cinta tumbuh karena kebersamaan).

* Positive Thinking
Berpikir positif dan terbuka adalah langkah bijak. Jangan sampai Anda terjebak pada pikiran dia adalah pilihan yang salah karena bukan Anda sendiri yang memilihnya. Bagaimanapun setiap manusia pasti memiliki kelemahan, jadi "nikmati" saja kekurangannya. Lihatlah hal-hal positif yang ada pada dirinya dan kenali kebaikannya hingga Anda lebih bahagia menjalani hidup.

* Anak sebagai Jembatan
Sebaiknya jangan tunda kesempatan untuk segera punya momongan. Kehadiran anak bisa menjadi jembatan hati kedua pasangan yang menikah karena perjodohan. Menyaksikan buah cinta Anda tumbuh di rahim istri, menemaninya berjuang selama persalinan, kerepotan bersama mengurus si kecil bisa mendekatkan kedua hati yang lebih efektif dari komunikasi verbal sekalipun.

Oleh: Marfuah Panji Astuti/Tabloid Nakita
http://www.kompas.com

Empat Pilar Pernikahan (Bagian 2 - habis)

Pilar kedua
Keterbukaan berdasar kesepakatan yang dibicarakan pada saat awal pernikahan dalam pengelolaan penghasilan keluarga. Kesepakatan dalam pengelolaan keuangan akan menghindarkan saling curiga antarpasangan. Perkawinan dual-career saat ini memang menjadi hal yang biasa. Suami-istri memiliki karier masing-masing, namun dengan pilar kedua ini, suami seyogianya tetap mengambil peran dominan dalam menafkahi keluarga.

Kalaupun ada kontribusi penghasilan pihak istri, hal itu tetap dalam koridor sebagai pendukung. Andaikan terjadi kondisi tidak terelakkan, suami kena PHK, sakit, yang memaksa istri mengambil alih peran suami dalam mencari nafkah, maka pilar pertama hendaknya dikembangkan sehingga tercipta relasi tulus dalam bekerja sama menjaga keutuhan perkawinan.

Pilar ketiga
Penyesuaian dalam kehidupan seksual dengan upaya untuk memperoleh kondisi ”well-being” (kenyamanan psikoseksual) antarpasangan sangat didukung oleh respek antarpasangan oleh karena komunikasi yang nyaman, jalinan kasih, dan ketertarikan seksual antarpasangan yang terjaga.

Pilar keempat
Kebersamaan dalam aktivitas spiritual, seperti sholat bersama, spergi ke gereja bersama, berdoa bersama, mengaji bersama, dan menghadiri perayaan keagamaan bersama di keluarga besar masing-masing pasangan dengan hati ringan dan gembira akan mempererat tali silaturahim antarkeluarga besar, dan akan mengimbas pada peningkatan rasa kasih antarpasangan pula.

Setelah menyimak uraian di atas, kita semua dapat mengevaluasi kehidupan perkawinan kita, pada pilar manakah kiranya perkawinan kita belum berpijak. Satu hal yang perlu kita simak adalah bahwa meja dengan kaki empat akan lebih kokoh berdiri daripada meja berkaki tiga, apalagi bila hanya berkaki dua. Jadi, perkawinan dengan disangga oleh empat pilar pun diharapkan dapat kokoh terjaga sampai kaken-ninen.

Sumber:
Sawitri Supardi Sadarjoen psikolog
http://kesehatan.kompas.com

Empat Pilar Pernikahan (bagian 1)

Begitu ikrar nikah dikumandangkan, masing-masing pasangan masuk dalam lingkaran perkawinan. Perkawinan menuntut kemampuan adaptasi, penyesuaian antarpasangan oleh karena perbedaan latar belakang keluarga, pendidikan, dan kebiasaan adat istiadat.

Pasangan menghadapi tantangan kehidupan nyata yang menuntut tingkat kematangan kepribadian tertentu untuk mampu melewatinya dengan mulus. Banyak perbedaan yang tidak terelakkan dapat menjadi sumber konflik dalam perkawinan.

Pasangan perkawinan adalah dua orang dan secara esensial berbeda. Mereka tidak akan pernah memiliki perspektif yang sama. Pengalaman mereka berbeda, kebutuhan mereka berbeda, dan nilai-nilai yang dianut pun akan memberikan pengaruh sudut pandang masing-masing dalam menghadapi permasalahan seperti pada ilustrasi berikut.

”Kami tidak bisa berkomunikasi, ia selalu secara keras menolak usul saya dan ia tidak pernah mau mendengar apa yang saya sampaikan. Ia berpendapat bahwa saya berada pada tempat yang berbeda. Setiap pembicaraan kami berakhir dengan pertengkaran.”

Respons salah satu pasangan tentang pasangannya membuat tidak diperolehnya toleransi dari keduanya. Kebanyakan orang berpikir bahwa permasalahan yang dihadapinya dalam perkawinan lebih disebabkan oleh kesalahan pasangannya.

”Bila saya mengeluhkan kesedihan dan permasalahan padanya, saya merasa bahwa sayalah yang terluka. Ia selalu mengatakan bahwa kalau saya ingin mengatasi masalah, saya harus mulai dari diri saya sendiri. Ia selalu mengatakan bahwa kelakuannya tidak terkait dengan kesedihan yang saya rasakan.”

Pandangan lain tentang masalah yang dihadapi sering terdapat pada pasangan perkawinan. Hal ini tidak akan terjadi bila pasangan tidak dipengaruhi oleh kesan pertama seperti ini:

”Karena suami saya pernah mendapatkan pertolongan dari seorang psikiater, saya berpendapat bahwa setiap permasalahan yang terjadi di antara kami disebabkan oleh dirinya. Padahal, permasalahan yang ia hadapi pada masa lalu disebabkan oleh perlakuan orangtuanya. Sedangkan cara pandang saya terhadap masalah juga dipengaruhi oleh sikap orangtua terhadap saya pada masa lalu dan yang pasti orangtua saya berbeda dengan orangtuanya.”

Selain pasangan harus mampu menerima perbedaan esensial dari diri masing-masing dan berupaya untuk mencari titik temu yang dapat disepakati secara bersama, kiranya penyesuaian antarpasangan akan semakin optimal bila mengacu pada empat pilar utama dalam perkawinan.

Pilar pertama
Cinta kasih tulus dan rasa hormat antarpasangan:
Atas dasar pilar ini, maka dinamika interelasi antarpasangan menjadi nyaman bagi keduanya. Ada kesediaan untuk saling mendengar secara aktif pada apa yang disampaikan oleh pasangan. Masing-masing pasangan menghargai pendapat pasangan sehingga terjadi diskusi yang menarik dalam upaya mencari solusi masalah.

Masing-masing pasangan menghargai toleransi serta membuka pintu maaf yang cukup. Bila satu masalah telah ditemukan solusinya, kalaupun ada kesalahan salah satu pasangan, pasangan yang lain tidak mengungkit-ungkit kesalahan tersebut.

Masing-masing pasangan seyogianya tidak merasa enggan menghargai pasangan yang telah memperlakukannya dengan manis. Perhatian pasangan akan kesukaan, kesenangan, dan minat pasangan akan meningkatkan respek pasangan terhadap suami/istrinya. Dengan dasar kasih, maka seyogianya kedua pasangan belajar mendengar apa yang disampaikan suami/istri. Dengan begitu, maka tingkat kepekaan perasaan pasangan terhadap perasaan pasangannya akan meningkat. Pasangan akan merasa lebih dipahami.

Sumber:
Sawitri Supardi Sadarjoen psikolog
http://kesehatan.kompas.com

Ijinkan Aku Memahami Dirimu….!!

Berikut adalah sebuah cerpen unpublished yang pernah saya tulis untuk sebuah majalah kampus LPM Profesi, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia. Karena keburu lulus dan kesibukan, maka cerpen ini masih saya simpan di komputer. Mudah-mudahan dapat memberikan fadhilah, khususnya bagi yang ingin menempuh biduk perniakahan. Selamat Membaca.

Kecupan bibir yang manis masih terasa dikeningku. Istriku memang terbiasa membangunkan aku dengan versinya sendiri.

“Mas…waktu adzan sholat shubuh hampir tiba !!”

Itu sudah dilakukannya semenjak kami baru menikah sampai dengan sekarang memasuki minggu kedua. Sungguh sebuah anugerah yang tiada ternilai harganya. Kami dipertemukan Alloh, disebuah organisasi kampus tempat kami kuliah dulu. Ia dan aku sama-sama berjuang lewat tulisan, mencoba kritis terhadap sistem kampus yang terkadang merugikan bahkan cenderung menguntungkan beberapa gelintir golongan.

“Pfuhhh…..!!”
Hembusan nafas dari dalam diri, mencoba menguapkan bayangan kesibukan yang akan aku lewati hari ini. Masih terbayang dalam fikiranku dahulu tentang gambaran seorang istri. Yaitu sesosok wanita yang keibuan, penuh perhatian, dan yang utama adalah penurut. Tetapi yang ada didepan saya adalah sebaliknya. Ia agak bandel, orang jawa bilang ngeyelan. Tak pelak biasanya dialog antara aku dan dia seperti dalam sebuah diskusi panel yang sedang mempertahankan ideologi masing-masing. Dan apabila aku menginginkan sesuatu, ee…ia malah mengajak diskusi dan mementahkan apa yang menjadi keinginanku. Ujung-ujungnya apabila aku sedang tidak mood, setengah bercanda ia akan bilang. “Tuh betulkan…., istrimu ini memang cerdas mas !!”. Dan berakhir dengan pelukan sayang darinya, segera semuanya mencair.

Tak terasa semua seolah mengalir begitu saja. Setelah pertemuan itu ada keinginan dari dalam lubuk hati yang terdalam, “Aku ingin menikahinya !!”. Dan kini setelah menikah ternyata lebih banyak yang belum bisa aku pahami dari dia. Setiap perkataan yang terucap dari bibirnya mengandung muatan perasaan yang sangat dalam. Pesan-pesannya juga terkadang kontroversional dan cenderung emosional.

Saya cuma merenung terdiam. Aku berpikir bahwa pernikahan merupakan pertemuan antara dua “komunitas besar” yang diharapkan bisa bersatu. Kata Bapak: “kalo bisa, kalian saling dukung karena kekuatannya akan sangat besar sekali. Tetapi kalo tidak, justru kekuatan untuk saling melemahkan juga tinggi. Lebih-lebih bila semua hanya berpikir untuk dirinya sendiri”. Catat!! hanya berpikir untuk dirinya sendiri.

Akhirnya aku berangkat kerja, menjemput rejeki yang telah dijanjikanNYA. Kukecup kening sesosok wanita yang sebetulnya masih terasa asing, tapi Insya Alloh ikhlas karena ada nilai ibadah didalamnya.
“Mas berangkat dulu dek, Assalamu’alaikum…!!”

*** *** *** *** ***
Telah datang seorang Pangeran dalam diriku yang mengubah statusku menjadi seorang istri. Sebuah perubahan yang sampai saat ini masih terasa gamang, karena menuntut banyak perubahan yang lain. Semua urusan rumah tangga harus aku tangani. Mulai dari yang sepele, seperti menyediakan minum, sampai yang tidak kusuka, mencuci. Wuhh, saat masih sendiri saja aku ogah-ogahan. Pertamakali saja aku mencucikan bajunya, aku merasa terbebani. Tapi sekarang, jika 2 hari saja tidak mencuci, bisa-bisa ia akan ngantor dengan baju yang tidak sedap dilihat. Maklum seragam dari kantor cuma 2 stel.

Kadang muncul pikiran nakal, kenapa Alloh menganugerahkan kekuasaan pada laki-laki sekaligus sense kekuasaan itu sendiri ?. Dan kekuasaan itu pun mulai kurasakan sekarang. Satu hal yang dulu masih kurenungi di saat Bapak berpesan,
“Bahwa meskipun penghasilanmu adalah hakmu sepenuhnya, tetap mintalah izin dalam penggunaannya !!”
“Meski aku gunakan untuk keluarga ?”
Bapak mengangguk.
“Ya. Dan meskipun uang itu kamu berikan kepada kami….!!”

Dan satu hal lagi yang membuat aku tersadar betapa tingginya posisi suamiku dalam keluarga adalah ketika perpisahan di stasiun Tugu. Disaat kami hendak menempuh jarak Yogyakarta-Cirebon. Bapak memberikan sejumlah uang.
“Saya ingin memberikan uang ini pada anak saya, boleh ?”

Suamiku tidak bisa berkata lain kecuali mengangguk. Bayangkan !!. memberi uang saja Bapak minta izin dulu. Seketika aku berpikir jika Bapak saja yang bukan hanya orang tua, tapi kuanggap guru menghargai keberadaan suamiku seperti itu…apalah lagi aku ?. Tiba-tiba saja bulir-bulir air mata menggenang membentuk sebuah danau kecil disudut mataku, yang tanpa aku sadari. Ada keterjawaban dari sebuah pertanyaan.

Memang aku terkesan egois dan bandel, maklumlah ketika aku masih sekolah dan kuliah. Aku sudah melanglangbuana diberbagai organisasi sekolah dan kampus. Aku sering menjadi leader, membawahi anak buah yang banyak juga laki-laki. Jadi lengkaplah sudah fasilitasku untuk merasa sejajar dengan laki-laki !!.

Ternyata Alloh mempertemukanku dengan seseorang yang membuatku melihat dengan mata hati, perasaan, bukan sekedar rasionalitas dan sentimen keperempuanan saya. Dan membuatku benar-benar menjadi perempuan. Apalagi dia, Insya Alloh, datang benar-benar karena kekuasaanNYA dari hasil Istikharah-ku berdasarkan dua hal, akhlaq dan agama. Kembali, lagi-lagi bulir-bulir itu semakin deras mengalir dan tidak hanya menbentuk danau kecil tapi aliran-aliran kecil dipipiku.


Tiba-tiba terdengar suara salam suamiku dari teras rumah.

“Assalamu’alaikum…Dek!!”
Kusekah air mata dimata dan pipiku, yang kini hanya meninggalkan kelembaban di tiap sudutnya.
“Wa’alaikum salam…!!”
“Ada beberapa file penting dikomputer yang keting…!!”

Suamiku menatapku dalam-dalam penuh dengan perasaan. Segera ia mendekapkan dadanya yang lapang itu ketubuhku. Damai…damai sekali.

“kamu habis nangis dek, mungkin bisa dibicarakan dengan Mas sekarang…?”
Dan akupun semakin menjadi.

“Maafkan Adek ya Mas, apabila selama ini Adek terkesan egois, bandel dan selalu menyepelekan segala sesuatunya. Tapi bukan itu sesungguhnya diri Adek. Adek hanya butuh waktu untuk merubah posisi Adek, dari Adek yang dahulu bebas mengatur segala sesuatunya menjadi Adek yang harus menempatkan diri Adek sebagai seorang istri yang baik untuk Mas. Adek hanya butuh waktu Mas...!!”.

“Mas paham dan Mas ngerti dek. Justru ini konsekuensi yang harus Mas terima, karena bagaimanapun juga Mas telah berjanji menerima adek apa adanya. Semua kelebihan dan kekurangan adek, Mas terima dengan ikhlas. Begitupun juga sebaliknya diri Adek terhadap Mas. Yang penting sekarang bagaimana Adek memahami Mas dan juga sebaliknya bagaimana Mas memahami diri Adek. Sekarang kita niatkan untuk menjalani segalanya bersama dalam rangka mencari Ridho-NYA. Begitu ya, bidadariku…!!”.

Kini ia menempelkan bibirnya dikeningku, dalam…dalam sekali sedalam perasaan yang ia tanamkan pada hatiku. Memang harus saya akui….., banyak hal dari mahluk Alloh yang satu ini yang membuat saya merasakan arti hidup dan kesyukuran. Dan semua itu membuatku semakin dekat dengan dirinya dan denganNYA.
Suamiku, pangeranku, ijinkan aku juga memahami dirimu agar aku dapat benar-benar menjadi bidadarimu, bukan hanya didunia, tapi juga di akhirat kelak. Amin.

ditulis oleh:
Liyus Valgrade

Psikologi Pernikahan

Benarkah menikah di dasari oleh kecocokan? Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng.. Kalau sama-sama suka sop buntut berarti masa depan cerah...(is that simple?).

Berbeda dengan sepasang sandal yang hanya punya aspek kiri dan kanan, menikah adalah persatuan dua manusia, pria dan wanita. Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya. Kecocokan, minat dan latar belakang keluarga bukan jaminan segalanya akan lancar.. Lalu apa?.

MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani. Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya. Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya? Harus ada 'Komunikasi Dua Arah', 'Ada kerelaan mendengar kritik', 'Ada keikhlasan meminta maaf', 'Ada ketulusan melupakan kesalahan, dan keberanian untuk mengemukakan pendapat'. Sekali lagi MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan.


MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuh, ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil.

MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan hanyalah bunga.

Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa, bukanlah rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya membuat keluarga saling tersinggung, apalagi kegemaran minum kopi yang sama...

MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan anda.Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami orang lain...?? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa memperhatikan pasangan hidup...??

MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudera, serta jiwa besar untuk 'Menerima' dan 'Memaafkan' Otak kiri terlalu rasional, sedangkan otak kanan irasional. Semua orang pintar terkadang semakin rasional. Agar punya pengalaman yang unik dalam pernikahan, menikahlah dengan yang beda suku dan daerah asal. Karena akan sangat unik. Kalau terjadi pertengkaran tidak akan lari ke mertua. Dengan menikah jauh itu, minimal orang semiskin-miskinnya pun akan naik bis antar kota antar propinsi. Jangan terlalu rumit-rumit menikah itu, permudahlah.

Hati-hati yang uangnya terlalu banyak dan pendidikannya terlalu tinggi, biasanya perhitungannya terlalu matematis. Bila menikah itu tidak cocok justru itu menarik karena ada tantangannya. Bila menikah itu kurang cinta, justru itu luar biasa paling menarik. Karena banyak yang pacaran lama tapi akhirnya putus.

Menikah itu tinggal bersabar dan bersyukur. Jangan terlalu banyak rumus dalam pernikahan. Maka jika ingin siap menikah, sabarnya harus sangat bagus dan syukurnya pun harus sangat bagus. Orang yang sangat bagus adalah orang yang dalam posisi sabarnya sangat baik dan syukurnya sangat baik, karena dia akan bersabahat. Karena nanti masalah akan selalu ada. Kalau sabarnya sangat baik, syukurnya sangat kurang, nanti pasif terhadap masalah. Kalau sabarnya sangat kurang, syukurnya sangat baik, nanti pasif pula terhadap masalah. Sedangkan, bila sabarnya sangat kurang syukurnya sangat kurang, maka reaktif terhadap masalah.

Bila kita siap menikah mari kita nikmati segala kekurangan pasangan kita, karena latar belakangnya yang berbeda. Yang penting kita tingkatkan rasa sabar kita dan rasa syukur kita. Tidak ada masalah itu. Tidak rumit-rumit amat, biasa saja. Bila kita memikirkan menikah itu susah, maka susah betulan. Bila kita memikirkan bahwa menikah itu mudah, maka Alloh akan memudahkannya, sebagaimana hadis qudsi "Alloh itu sebagaimana persangkaan hamba-Nya".

Keberanian itu penting. Banyak laki-laki yang minder tidak berani karena tidak ada pekerjaan, maka pihak wanita jangan terlalu menonjolkan optimalisasi dirinya. Dan kaum wanita pun harus berani menyatakan. Permasalahannya adalah yang penting gerak, bukan hanya siap-siap saja. Oleh karena itu proklamasikan diri kita bahwa kita adalah orang yang pemberani untuk menikah..................Life Is Beautiful!.

Penulis: Diah Amini
Sumber: http://womenidentity.blogspot.com

Saat Wajah Tak Lagi Menarik

“Adik gue pintar cari pasangan; dia cari yang bisa diajak ngobrol. Salahnya gue disitu; gue melihat istri gue dari fisiknya, dan setelah sekarang ketemu orang laen yang enak diajak ngomong, gue kepincut.”

Aku terkaget mendengar potongan kalimat itu. Pria paruh baya yang sedang duduk di depanku ini, tiba-tiba mencetuskan pernyataan itu. Memang, biasanya dia seringkali bercerita tentang ini dan itu, namun kali ini Aku tak menduga ia akan bercerita tentang hal personal itu. Selain kaget, Aku juga khawatir ketika temanku itu menceritakan permasalahannya. Aku Khawatir tak cukup berpengalaman dan bisa membantunya menyelesaikan permasalahannya.

Kata-kata pria itu, kemudian membuatku berpikir dan menyimpulkan sesuatu. Manusia itu berkembang. Yang tadinya cuma sebuah sel telur dan sperma yang menyatu, kemudian, menjadi janin, lahir, jadi bayi, lahir, bisa jalan, hingga kemudian makin tua dan mati.

Pada suatu titik dalam perkembangan manusia, yang terjadi adalah kemunduran fisik; kekuatan otot, kecepatan reaksi, dll. Yang tadinya istrinya cantik atau suaminya ganteng, lama-lama pasti akan keriput, tak montok lagi, perutnya tak six pack lagi atau rambutnya sudah tak tak bisa diberi gel (karena sudah tak memiliki satupun). Di saat inilah, sepertinya hal-hal berbau tampilan luar dan fisik akan mulai berkurang perannya dalam kehidupan berpasangan, dan kemampuan komunikasi akan mengambil alih. Temanku pun mengiyakan asumsi tersebut.

“Lo akan ngiri kalo liat mereka. Mereka bisa berjam-jam ngobrol. Kadang obrolannya pun ngalor ngidul; apa aja yang bisa mereka obrolin. Padahal, mereka udah sepuluh tahun menikah,” lanjutnya.

Wajahnya tampak lesu. Senyum yang biasanya lebar terlihat, kini seakan terpaksa diangkat. Suaranya pun tak terlalu keras; lirih, seperti mengandung penyesalan.

Aku terdiam. Tenggorokanku tercekat; makin bingung bagaimana harus menanggapinya. Kubayangkan, bagaimana rasanya jika komunikasi dengan pasangan, tak berjalan sebagaimana mestinya. Sepertinya hampa sekali hidup ini; karena setiap hari, jam, menit dan detik, kita akan bersamanya. Jika tanpa komunikasi, ibarat selalu mendengarkan tik tok tik tok; bunyi jam dinding berdetik di ruangan kosong.

Aku masih tak tahu bagaimana bantuan yang bisa kuberikan; mungkin hanya telinga dan hati untuk mendengarkannya saja. Namun, untuk masalah komunikasi? Hmmm, nanti dulu; Aku tak terlalu kompeten. Ujung-ujungnya paling hanya memberi penguatan, kalau komunikasi itu bisa dipelajari, jadi kawanku ini tak perlu putus asa.

Dari situ, Aku berkesimpulan bahwa kriteria “komunikasi baik dengan calon pasangan” sepertinya bisa menjadi salah satu syarat penting dalam penentuan pasangan. Apakah pasangan bisa saling mendengarkan dan saling berbagi perasaan dan pemikiran, bisa menjadi beberapa kriterianya. Sehingga, jika wajah pasangan tak lagi menarik; sudah tak ganteng/cantik dan peyot, masih ada yang bisa menjadi pupuk bagi kelangsungan hidup berpasangan. Yup! Dialah komunikasi!

Sumber:
http://popsy.wordpress.com

Tidak Ada Pernikahan Ideal! (bagian 3-habis)

Hubungan Seks

Keterampilan terakhir yang dibahas namun seringkali dinilai tabu untuk dibahas secara umum, adalah keterampilan dalam hubungan seksual. Hubungan seksual yang dimaksud disini adalah segala kegiatan, mulai dari bersentuhan, hingga bersanggama.

Keterampilan ini sepatutnya dikuasai oleh setiap pasangan, karena percaya tidak percaya, hubungan seks adalah sebuah aspek penting dalam pernikahan dan nantinya akan mempengaruhi kepuasan pasangan dalam pernikahan.

Lalu, ia melanjutkan materi dengan memberikan beberapa kasus yang pernah ditanganinya. Dalam cerita itu, ditemukan beberapa masalah yang sering muncul, berkaitan dengan hubungan seksual, yaitu:

  1. frekuensi hubungan seksual tidak sesuai dengan harapan,
  2. pasangan terlalu pasif,
  3. tidak puas dalam berhubungan seks, namun tidak berani mengutarakannya,
  4. kehadiran anak seakan menjadikan hubungan seks menjadi kurang penting,
  5. perasaan cinta dan gairah menurun drastis, dan
  6. disfungsi seksual.

Apakah Anda Cocok Sebagai Pasangan?

Di bagian akhir seminar, Mbak Ina menjelaskan tentang genogram. Genogram sendiri adalah suatu bagan pemetaan keluarga pria dan wanita, beserta dinamika hubungan di dalamnya.

Dari genogram ini diharapkan pasangan akan makin saling mengenal. Pengenalan ini dalam hal: sifat-sifat yang menonjol, nilai-nilai yang penting, hal-hal yang disukai dan tidak disukai, pengalaman masa kecil yang berkesan, dan alasan tertarik satu sama lain.

Selain itu, dari pemetaan keluarga beserta dinamika hubungan di dalamnya, pasangan akan bisa melihat bagaimana pola interaksi antara ayah dan ibu masing-masing, interaksinya dengan anak, nilai-nilai penting dalam keluarga, gaya komunikasi masing-masing keluarga, pola pengasuhan, pengalaman-pengalaman dalam keluarga, dan bagaimana pengelolaan keuangan dalam keluarga.

Dari genogram pula, pasangan diharapkan akan mulai mendiskusikan peran dan harapan-harapan dalam pernikahan, sebab peran dan harapan ini banyak dipengaruhi oleh latar belakang keluarga. Misalnya seorang wanita yang melihat ibunya diselingkuhi beberapa kali akan memiliki pandangan negatif terhadap laki-laki, sehingga ia akan mengharapkan suaminya kelak tidak akan melakukan hal serupa padanya.

Yang perlu diingat dari harapan serta peran ini adalah, keduanya haruslah fleksibel dan realistis, sebab perubahan akan selalu terjadi dan tidak mungkin semua harapan akan terpenuhi.

Simpulan

Di akhir seminar, pembicara menyimpulkan 3 hal berkaitan dengan pernikahan, yaitu:

  1. tidak ada pernikahan yang ideal. Setiap pernikahan akan didera masalah,
  2. kebahagiaan dalam pernikahan akan datangnya dari diri sendiri, yaitu cara pandang pasangan terhadap masalah yang mendera. Jika pasangan melihat masalah sebagai cobaan menuju arah yang lebih baik, mereka (mudah-mudahan) akan bisa melewatinya dengan baik pula,
  3. dan kuncinya adalah komitmen satu sama lain untuk tetap berada dalam dan membangun pernikahannya.
Sumber dari:
http://popsy.wordpress.com

Tidak Ada Pernikahan Ideal! (bagian 2)

Ekspresi Cinta
Menurut Gary Chapman, setiap manusia memiliki cara mengungkapkan cinta masing-masing. Namun, secara umum, ungkapan cinta itu terbagi ke dalam 5, yaitu:

  1. words of affirmation (ungkapan afirmasi). Bentuknya antara lain: kata-kata yang membesarkan hati, ungkapan dengan nada suara lembut, permintaan dengan kerendahan hati, atau pujian.
  2. quality time (waktu berkualitas). Bentuknya antara lain: memberikan perhatian penuh, kasih sayang dan menikmati kebersamaan. Menikmati kebersamaan ini bisa berupa komunikasi timbal balik (saling mendengar dan bercerita) dan melakukan kegiatan bersama (nonton film, bepergian, dll).
  3. receiving gifts (menerima hadiah). Bentuk ungkapan cinta ini adalah yang paling mudah dipelajari. Contohnya adalah memberi hadiah dan kejutan.
  4. acts of service (pelayanan). Pasangan tentu memiliki kesibukan atau pekerjaan masing-masing. Bentuk ekspresi cinta ini adalah dengan memberikan bantuan pada pasangan ketika sedang membutuhkan bantuan. Misalnya, suami membantu istri untuk mengurus anak, atau istri membantu suami ketika sedang mengerjakan pekerjaan. Namun pemberian bantuan ini hanya akan memperkuat rasa cinta jika dilakukan dengan senang hati, bukan karena rasa bersalah atau terpaksa.
  5. physical touch (sentuhan fisik). Sentuhan fisik yang dimaksud disini bukan melulu aktifitas seksual, melainkan bisa hanya berupa sentuhan di pundah, tangan, dsb. Bentuknya antara lain: pijatan, kecupan, menggandeng tangan, mengusap punggung, dll. Konon, ungkapan sentuhan ini sangat efektif dalam mengkomunikasikan cinta.

Bila pasangan memiliki cara yang sama dalam mengekspresikan cinta, hal ini tak akan menjadi masalah besar. Namun jika pasangan memiliki cara yang berbeda, tidak apa-apa. Pasangan tersebut haruslah mulai beradaptasi dengan cara mulai mengungkapkan cintanya sesuai dengan yang disukai pasangannya. Ingat! Penekanannya adalah dalam hal menyenangkan pasangan, bukan hanya memenuhi kebutuhan pribadi.

Penanganan Masalah
Selanjutnya, konselor yang juga bergerak di bidang anak autis ini mengutarakan cara menangani masalah dalam pernikahan. Menurutnya, ada 2 masalah yang muncul dalam pernikahan, yaitu masalah yang berulang serta masalah yang bisa dipecahkan.

Masalah yang berulang adalah sebuah masalah yang sudah berulang kali coba dipecahkan, namun tetap saja muncul. Masalah ini juga kadang menimbulkan pertengkaran. Contohnya antara lain: sifat keras dari pasangan, sifat pemalu pasangan. dsb. Penyelesaian masalah ini, menurut Mbak Ina, begitu ia sering dipanggil, adalah dengan menerima kondisi pasangan apa adanya.

Sedangkan masalah yang bisa dipecahkan biasanya tidak memiliki muatan emosi yang besar, seperti masalah pengaturan waktu, mengatur kesibukan, dsb.

(bersambung...)

Sumber dari:
http://popsy.wordpress.com




Tidak Ada Pernikahan Ideal! (Bagian 1)


Motivasi Menikah

Mengambil istilah dari pepatah "Lain ladang, lain pula belalangnya", maka ada banyak hal yang memotivasi seseorang untuk melangsungkan pernikahan, antara lain:
  • memperoleh kebahagiaan,
  • merancang masa depan bersama,
  • memiliki anak,
  • hubungan seks,
  • lepas dari rongrongan orang tua,
  • status,
  • kehidupan ekonomi lebih baik,
  • keluar dari keluarga yang penuh konflik,
  • menyenangkan orang tua,
  • melepaskan diri dari pacar yang abusive,
  • mengejar umur, dan
  • hamil di luar rencana.

Dan, karena pernikahan sama artinya dengan mempersatukan dua orang dengan latar belakang berbeda untuk seumur hidup, dimana perubahan akan selalu terjadi dan masalah akan sering muncul, maka dari itu persiapan menuju pernikahan menjadi suatu hal yang sangat penting. Persiapan ini yang nantinya bisa menjadi salah satu pondasi dalam membangun pernikahan yang kokoh.

Untuk bisa mewujudkan pernikahan yang kokoh, ada beberapa keterampilan penting yang perlu diketahui calon suami-istri, yaitu:

  1. komunikasi yang efektif,
  2. ekspresi cinta,
  3. penanganan masalah, dan
  4. hubungan seks.

Komunikasi Efektif

Pasangan, walaupun menggunakan satu bahasa yang sama, Bahasa Indonesia, namun belun tentu komunikasi mereka bisa berjalan dengan baik. Mereka pasti terpengaruh oleh gaya komunikasi dalam keluarga mereka sendiri, kondisi emosi dan fisik, dan juga pengalaman sebelumnya. Contoh perbedaan dalam berkomunikasi yang sering terjadi antara lain adalah:

  • Pria cenderung bicara singkat dan padat, bosan mendengarkan cerita yang panjang, dan ingin selalu memberikan solusi. Sedangkan, wanita senang bercerita mendetil, ingin didukung, namun belum tentu membutuhkan solusi.
  • Pria lebih banyak bicara dengan melibatkan fakta tanpa perasaan, sedangkan wanita, kebalikannya; melibatkan perasaan serta pengalaman subyektif.

Pemahaman akan bagaimana gaya berkomunikasi serta pengalaman-pengalaman komunikasi sebelumnya dari pasangan, adalah salah satu pondasi dalam menciptakan komunikasi yang efektif. Lanjutannya, adalah saling memahami satu sama lain.

(bersambung...)

Sumber dari:
http://popsy.wordpress.com


Bukan Sembarang Istri

Penulis: Meti Herawati

Ketika kita sudah berikrar menjadi sepasang suami istri berarti kita pun siap hidup bersama dalam suka dan duka, mendampingi suami hingga akhir hayat. Komitmen seperti itu bukanlah hal sulit bagi sebagian perempuan, apa sih susahnya hidup bersama dengan orang yang dicintai. Tapi jangan salah ada sebagian perempuan yang menghadapi dilema untuk mewujudkan komitmennya yang satu ini.

Terutama bagi para perempuan yang punya karier di luar rumah, ketika suatu saat suaminya pindah tugas ke luar kota atau harus melanjutkan study ke luar negeri. Mereka dihadapkan pada pilihan berat ikut suami atau tetap tinggal dengan pekerjaannya. Melepas suami seorang diri jauh-jauh dari keluarga bukanlah kondisi yang menenangkan, dan sebaliknya melepas pekerjaan begitu saja, padahal sudah diraih dengan susah payah adalah hal yang sangat berat.

Begitulah hidup penuh dengan pilihan. Setiap pilihan yang kita ambil menghadirkan konsekwensi yang harus kita hadapi. Hanya orang-orang bijak yang menentukan pilihan yang arif dan maslahat bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk orang disekitarnya. Dan saya bertemu dengan orang-orang bijak ini ketika merantau bersama suami ke negeri jiran. Saya banyak bertemu dengan para istri yang setia mendampingi suaminya belajar. Tidak sedikit diantara para istri ini yang rela meninggalkan pekerjaannya di tanah air.

Yang membuat saya kagum pekerjaanya bukanlah pekerjaan yang mudah diraih. Ada yang bekerja sebagai dokter umum di RS swasta yang cukup terkenal di Jakarta, ada juga yang bekerja sebagai sekretaris perusahaan besar, ada juga yang berprofesi sebagai dosen bahkan ada manager di perusahaan besar. Subhanallah, sungguh pengorbanan yang luar biasa dalam pandangan saya.

Saya yakin para istri ini memilih meninggalkan pekerjaan bukanlah hal yang mudah, apalagi disini mereka harus kehilangan penghasilan dan rutinitas yang sudah bertahun-tahun dijalani. Tapi mereka sudah menentukan pilihan yang suatu hari nanti akan menghasilkan buah yang tidak ternilai. Mungkin sekarang para istri ini kehilangan penghasilan dan status sebagai wanita karier, tapi kebersamaan dengan keluarga, suami dan anak-anak tidak bisa diukur oleh materi. Mereka sedang memberikan pupuk kehidupan yang sehat untuk buah hatinya, sebagai bekal untuk mengarungi samudra kehidupan.

Pengorbanan para istri ini tidak berhenti sampai disitu, di medan perjuangan ini mereka dihadapkan pada kondisi yang sulit. Biaya hidup sangat tinggi sedangkan beasiswa yang diterima sangat kecil. Bahkan ada yang mengalami beasiswanya habis, Inalillahi. Dalam kondisi seperti inilah para istri tangguh ini tampil. Ada yang mengambil pekerjaan sebagai pengasuh anak, membantu pekerjaan rumah (alias pembantu sambilan), membuat kue untuk dijual di kantin-kantin, berjualan pakaian, penjaga kedai (walaupun harus siap ditangkap).

Pekerjaan kecil inilah yang menopang ekonomi keluarga hingga anak-anak bisa terus sekolah, dapur tetap ngebul dan suami bisa menyelesaikan studinya. Sungguh pengorbanan yang luar biasa bukan, sehingga layak menyandang gelar “Bukan sembarang istri �. Tidak semua perempuan mampu mengambil langkah seperti mereka, banyak para istri yang lebih memilih karier sendiri dibanding harus mendampingi suaminya.

Sungguh beruntung suaminya bisa bersanding dengan istri seperti ini. Mau berkorban apa saja untuk kesuksesan suaminya, semoga suami senantiasa mengingat pengorbanan istrinya. Bahwa dalam kesuksesan yang diraihnya ada tetes peluh dan senandung do’a istrinya. Dan hanya Allah saja yang bisa membalas kebaikan para istri ini, Semoga Allah memudahkan urusan kita di dunia dan di akherat, Amin.

Sumber dari :
http://tentang-pernikahan.com

Proposal Nikah Ananda

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Tuhan selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : "Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu".

Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na'udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" (Qs. Al Israa' : 32).

Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. "Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu," ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga¡¨, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a'lam.

Ibunda dan Ayahanda tersayang....bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.

Sumber dari :
http://tentang-pernikahan.com

Pengalaman Pengantin Baru

Menegur orang yang berbuat salah itu adalah suatu kebajikan, bahkan menurut saya menegur orang yang berbuat salah lebih sulit ketimbang mengajak orang lain berbuat kebaikan. Tapi, bagaimana bila yang terjadi justru sebaliknya, bukannya menegur orang yang berbuat salah, melainkan salah menegur orang yang tidak berbuat salah? Duh...yang pertama, malu pastinya. Hati-hati, teguran kita justru dapat menjadi fitnah, lha wong nggak berbuat salah kok? Bisa dituntut dengan pasal pencemaran nama baik atau perbuatan tidak menyenangkan lho...

Saya mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga akan hal ini, dari pengalaman saya sendiri.

Dua hari setelah acara pernikahan, saya mengajak suami ke desa tempat tinggal nenek saya. Menjenguk nenek saya yang sedang sakit, sekaligus memperkenalkan keluarga besar saya pada suami. Pagi hari usai sholat subuh saya dan suami keluar rumah untuk menikmati pemandangan desa dan menghirup segarnya udara pagi pedesaan.

Ditengah jalan, kami berpapasan dengan rombongan pemuda yang berpenampilan khas anak santri, sekitar 5 orang. Arah kami berlawanan. Hanya dua langkah setelah mereka melewati saya dan suami, salah seorang berseru,

"Bukan mahrom !"

Suasana yang hening membuat seruan itu terdengar begitu jelas. Saya dan suami menengok ke samping kanan, kiri, dan belakang kami, tak ada orang lain selain kami, dan hanya kami yang merupakan pasangan. Sedikit bingung, karena kami tidak berlaku sebagaimana orang pacaran, seperti bergandengan tangan atau berangkulan.

Oalah...saya dan suami pun kemudian mengerti. Rupanya mereka mengira saya dan suami adalah pasangan bukan mahrom, yang pagi-pagi buta jalan hanya berduaan. Saya dan suami saling berpandangan, tertawa geli.

Saya menghargai keberaniannya untuk menegur. Eh salah, baru disebut berani bila ia berdiri ke hadapan kami dan menegur secara langsung, bukan berteriak sambil lalu, kemudian berbuat seolah-olah tak pernah berkata apa-apa. Tapi biarpun begitu, saya tetap merasa salut dengan niat baiknya nahi munkar, sayang ia memperingatkan orang yang salah. Saya dan laki-laki yang jalan bersama saya sudah sah menikah. Masak jalan berduaan sama suami nggak boleh ?

Dilain waktu, masih dalam suasana pengantin baru (Lima hari setelah hari pernikahan). Ketika Jogja tertimpa bencana gempa, saya dan suami berangkat ke Jogja dari Lombok, tanah kelahiran saya. Di Jogja saya ikut sebagai relawan sebagai tim medis mobile clinic.

Sembari menunggu mobil yang akan membawa saya dan tim medis lainnya ke lokasi-lokasi bencana, saya mengambil handphone dan mengetik SMS. Seorang akhwat yang belum saya kenal rupanya secara tidak sengaja atau sengaja ? Melihat barisan kata yang tengah saya ketik dihandphone saya,


"Sayang, lagi ngapain...? Adek kangen..."

Terkirim kepada "Lelaki Surga", nama yang saya berikan untuk suami didalam kontak handphone saya.

Sepanjang perjalanan menuju ke lokasi bencana, si akhwat tersebut acuh tak acuh terhadap saya, tak ada keramahan yang ia tunjukkan. Ketika tiba dilokasi dan kami mulai bekerja, disela-sela istirahat, teman dari akhwat tersebut bertanya pada saya,

"Mbak dari mana...?"

"Saya dari lombok..."
"Lho, jauh sekali...terus disini (Jogja) tinggal sama siapa?"
"Nginap di rumah Budenya suami..."

Si akhwat yang sempat melirik SMS mesra saya tadi, mendengar perbincangan antara saya dengan temannya. Serta merta ia terperangah dan berkata,
"Ooooh mbak udah nikah, yaa...? Duhh...saya jadi maluu..."
Barulah sikapnya berubah ramah terhadap saya.
Tidak tabayun (Konfirmasi), Su'udzon deh jadinya...

Belajar dari pengalaman tersebut, saya pun jadi lebih berhati-hati menilai orang lain. Ternyata, kita tidak boleh begitu saja menilai orang lain itu salah dari hanya penglihatan luar kita saja, apalagi bila hanya berdasarkan prasangka.

Suatu hari, ketika saya tengah ikut suami ke kampus, sembari menunggu suami selesai kuliah, saya main internet di warnet kampus. Di box tepat didepan saya digunakan oleh sepasang muda-mudi yang tingkah laku mereka membuat saya merasa gerah.

Perempuannya menggunakan celana super pendek dan ketat dengan baju atasan tak kalah ketat dan terbuka, sedang yang laki-laki menggunakan jaket bertopi yang menutupi kepalanya. Melihat dari cara berpakaian si perempuan, mungkin wajar bila orang menyangka ia bukanlah perempuan baik-baik.

Tingkah mesra mereka yang saling memeluk dan mencium membuat saya jengah hingga kehilangan konsentrasi. Berbagai pikiran negatif berkecamuk dalam benak saya. Mereka harus diberi peringatan, nih! Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan! Saya pun menyusun kalimat apa yang akan saya lontarkan kepada mereka, terus terang deg-degan!

Nahi Munkar memang butuh keberanian lebih. Eit...tunggu dulu, siapa tahu mereka itu pasangan menikah ? Cegah bathin saya. Teringat kembali pengalaman saya ketika pengantin baru dahulu, disangka pasangan yang belum halal alias pacaran.

Dengan menghimpun keberanian, saya pun mendekati pasangan muda-mudi tersebut.
"Mbak sama Masnya ini suami-isteri, bukan?"
Dijawab oleh yang perempuan dengan ramah, "Oh, iyaa...kita ini baru aja menikah...baru beberapa hari yang lalu"

"Ooo...pengantin baru, pantesan mesra-mesraan gitu..." Ujar saya tersenyum.
Ufh...lega...

Lega yang pertama karena mereka tidak sedang berbuat "mesum". Lega yang kedua karena saya mengkonfirmasi terlebih dahulu sebelum memberi peringatan. Tadinya, bila mereka menjawab belum menikah, saya sudah menyiapkan khotbah buat mereka. Lain waktu, saya harus belajar untuk selalu melakukan tabayun terlebih dahulu sebelum menilai orang lain salah, ataupun sebelum memberikan peringatan kepada orang lain...

Sumber dari :
http://www.cahayakhairani.multiply.com

Do'a Dikala Ragu Akan Dirinya

Bagi yang sedang bimbang oleh sang kekasih, nih ada do'a yang bagus untuk diamalkan. Selamat Mengamalkan ya....:)


Ya Allah...
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah... ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi

Tetapi ya Allah...
Seandainya telah Engkau takdirkan...
...Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku

Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti...
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya…

Dan ya Allah yang tercinta...
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya....

Ya Allah ya Tuhanku...
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik untukku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini

Ya Allah...
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini

----------------------------------------
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
----------------------------------------

Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh

Amin... Ya Rabbal 'Alamin

Ingat saja prinsip sepakbola.
Jangan menyerah walau kelihatannya tidak ada harapan.

Sumber dari :
http://tentang-pernikahan.com

  • Eva-Und.Kipas,650pcs-Kuala Lumpur
  • Erma-Und.Kipas,800pcs-Pariaman
  • Jimmy-Ung.Gulung,300pcs-Ambon
  • Ilham-Und.Kipas,250pcs-Banyuwangi
  • Amel-Und.Kipas,200pcs-Pekanbaru
  • Lina-Und.Gulung,800pcs-Flores
  • Yudha-Und.Kps+Gulung,450pcs-Bumiayu
  • Maya-Und.Kipas,750pcs-Palangkaraya
  • Ade-Und.Gulung,500pcs-Batakan
  • Novi-Und.Kipas,300pcs-Purbalingga
  • Rina-Und.Gulung,1250pcs-Tenggarong

  • TRANSFER PEMBAYARAN
  • a/n. Anisatin Arofah
  • No.rek: 0140 6150 27
  • BNI KCP UGM

  • a/n. Anisatin Arofah
  • No.rek: 8610 1725 56
  • BCA KCP Kaliurang
  • WEB STATISTIK